Memuat halaman...
Pantai MliwisMenelusuri keasrian alam pesisir selatan Kebumen yang dibangun dari semangat gotong royong dan kemandirian masyarakat Desa Kenoyojayan.
Perjalanan destinasi pesisir yang tumbuh dari swadaya gotong royong warga Desa Kenoyojayan hingga menjadi destinasi asri bernilai budaya tinggi.
Nama Mliwis dalam bahasa Jawa merujuk pada sejenis burung liar (belibis). Menurut cerita para sesepuh Desa Kenoyojayan dahulu kawasan pantai ini sering menjadi tempat singgah burung-burung liar tersebut saat bermigrasi.
Keberadaan burung mliwis yang banyak mendiami kawasan pesisir ini membekas di hati warga lokal, sehingga pantai ini secara lisan dinamai Pantai Mliwis oleh masyarakat sekitar.
Pengembangan Pantai Mliwis dimulai pada tahun 2018 secara swadaya murni oleh masyarakat Desa Kenoyojayan. Warga bergotong-royong merintis destinasi ini dari lahan liar hingga layak dikunjungi.
Tanpa mengandalkan kontraktor luar, masyarakat bersama-sama membersihkan lokasi tempat usaha, menata lahan parkir, serta merapikan pepohonan agar bisa difungsikan secara produktif untuk mendongkrak kesejahteraan desa.
Salah satu kearifan lokal yang paling menonjol di Pantai Mliwis adalah diadakannya upacara adat Grebeg Rolasan atau Grebeg Enthak-Enthik/Menthak-Menthik setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Warga melakukan arak-arakan gunungan hasil bumi melimpah dari balai desa menuju pantai, diakhiri dengan doa bersama dan perebutan gunungan oleh ribuan pengunjung sebagai bentuk kesyukuran atas berkah bumi.
Pantai Mliwis berjarak hanya 17 km dari pusat Kota Kebumen, dengan waktu tempuh sekitar 20 menit berkendara. Akses jalannya sudah dilapisi aspal halus dan terhubung langsung dengan JJLS (Jalur Jalan Lintas Selatan).
Untuk masuk ke area wisata, pengunjung hanya dikenakan biaya Jasa Penitipan Kendaraan (JPK) yang sangat terjangkau: Rp 3.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil, tanpa biaya masuk individu yang mahal.